PEREBUTAN BATIK OLEH UNI HINDIA BELANDA | Kayamara Konveksi | 085647595948 Seragam, Kaos, Tas, Masker, APD
0271-8202839
085647595948
WA / SMS / TELEGRAM

PEREBUTAN BATIK OLEH UNI HINDIA BELANDA

Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui kedaulatan penuh negara Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda (kecuali Irian Barat). KAIN BATIK DANAR HADI KAIN BATIK DANAR HADI ONLINE KT00195 Batik Cap Parang Mayapada 3 Uni Indonesia Belanda Negara Indonesia Serikat akan sederajat dengan dilakukan pada waktu yang bersamaan baik di Indonesia maupun di Belanda yaitu pada tanggal 27 Desember 1949. Di Belanda yang menandatangani naskah penyerahan kedaulatan adalah Ratu Yuliana PM. Dr. Willem Drees Menteri Seberang Lautan Mr. AM. J.A. Sassen dan ketua delegasi RIS Drs. Moh. Hatta. Sementara itu di Jakarta penyerahan kedaulatan dilakukan oleh Wakil Tinggi Mahkota A.H.J. Lovink dan Ir. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam suatu upacara penyerahan kedaulatan. Dengan ditandatanganinya naskah penyerahan kedaulatan maka secara formal Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia dan mengakui kedaulatan penuh negara Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda (kecuali Irian Barat). Perjuangan Rakyat dan Pemerintah di Berbagai Daerah dalam Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Kedatangan pasukan Sekutu (AFNEI) dan Belanda (NICA) di Indonesia menimbulkan insiden di berbagai daerah di Indonesia. Didorong oleh rasa tanggung jawab dan kewajiban mempertahankan kemerdekaan maka di berbagai daerah terjadi bentrokan dan pertempuran antara rakyat dengan pasukan AFNEI dan NICA. Berikut ini adalah beberapa perjuangan rakyat yang terjadi di berbagai daerah. 1. Pertempuran di Surabaya Pertempuran di Surabaya dimulai pada tanggal 25 Oktober 1945 ketika Brigade A.W.S Mallaby mendarat di Surabaya. Kedatangan mereka diterima pihak pemerintah Indonesia di Jawa Timur (Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo) dengan perasaan curiga. Berikut ini kronologis pertempuran antara pasukan Sekutu dengan rakyat Indonesia di Surabaya. Bab 3 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945 – 1949) 67 a. Pada Tanggal 26 Oktober 1945 Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Kapten Shaw melakukan penyerangan ke penjara Kalisosok. Mereka membebaskan Kolonel Huiyer (seorang kolonel Angkatan Laut Belanda) dan kawan-kawannya. b. Pada Tanggal 27 Oktober 1945 Dengan pesawat terbang pasukan Sekutu menyebarkan pamflet-pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjata-senjatanya yang dirampas dari Jepang. c. Pada Tanggal 29 Oktober 1945 Beberapa objek vital yang telah diduduki pasukan Sekutu berhasil direbut kembali oleh para pemuda. Untuk menyelamatkan pasukan Sekutu dari kehancuran maka Komando Sekutu menghubungi Presiden Soekarno. Presiden Soekarno yang didampingi Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin segera berunding dengan Mallaby. Dalam perundingan ini menghasilkan keputusan yaitu menghentikan kontak senjata dan membentuk kontak biro yang beranggotakan tentara sekutu dan RI. d. Pada tanggal 30 Oktober 1945 Dalam pertempuran di Jembatan Merah para pemuda menuntut pasukan Mallaby menyerah. Akan tetapi Mallaby tidak bisa menerima tuntutan itu sehingga terjadilah insiden antara para pemuda Indonesia dengan pasukan Sekutu. Dalam insiden ini akhirnya Mallaby terbunuh. e. Pada Tanggal 31 Oktober 1945 Jenderal Christison panglima AFNEI memperingatkan kepada rakyat Surabaya agar mereka menyerah apabila tidak mereka akan dihancurleburkan. Rakyat Surabaya tidak dapat memenuhi tuntutan Christison. f. Tanggal 9 November 1945 Pihak Inggris mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Subaya yang isi dan maknanya dirasakan sangat menghina martabat dan harga diri bangsa Indonesia. Berikut ini adalah isi pokok ultimatum tersebut. 1) Pihak Inggris ingin menuntut balas atas kematian Mallaby yang dianggap menjadi tanggung jawab rakyat KAIN BATIK DOBI KAIN BATIK DARI CIREBON MEMILIKI MOTIF Dalam Surabaya. 2) Menginstruksikan agar semua pemimpin Indonesia dan kepala pemerintah harus melaporkan diri pada tempat dan waktu yang telah ditentukan dengan meletakkan tangan mereka di atas kepala dan kemudian menandatangani dokumen yang telah disediakan sebagai tanda menyerah tanpa syarat. 3) Bagi para pemuda Indonesia yang bersenjata diharuskan menyerahkan senjatanya dengan berbaris serta membawa tanda bendera putih. Ultimatum yang ditandatangani Mayjen Mansergh itu disertai ancaman akan menggempur Surabaya dari darat laut dan udara apabila rakyat Surabaya tidak menjalankan instruksi sampai batas waktu yang ditentukan (pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945). Ultimatum tersebut ditolak oleh gubernur Jawa Timur. g. Pada Tanggal 10 November 1945 Terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dengan pejuang Indonesia. Pasukan Sekutu dengan peralatan perang yang canggih berusaha menggempur pertahanan pejuang Indonesia. Pertempuran ini berlangsung selama 3 minggu dan berakhir di Gunungsari pada tanggal 28 November 1945. Pertempuran Surabaya 10 November 1945 ini merupakan lambang keberanian dan kebulatan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemer-dekaan dan membela tanah air Indonesia dari segala bentuk penjajahan. Peristiwa 10 November itu sampai sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh seluruh bangsa Indonesia. 2. Bandung Lautan Api Pasukan Sekutu (AFNEI) mulai memasuki kota Bandung sejak bulan Oktober 1945. Tentara Sekutu menginginkan supaya senjata-senjata yang diperoleh dari hasil pelucutan tentara Jepang dan berada di tangan para pemuda diserahkan kepada Sekutu. Tuntutan tersebut diikuti dengan dikeluarkannya dua ultimatum berikut ini. a. Ultimatum Pertama Ultimatum pertama dikeluarkan pada tanggal 21 November 1945 berisi pasukan Sekutu menginginkan agar TKR dan semua pejuang Indonesia di Bandung segera meninggalkan Bandung bagian Utara selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945 dengan alasan untuk menjaga keamanan di wilayah tersebut. Tetapi ultimatum ini tidak dihiraukan oleh para pejuang RI sehingga saat itu sering terjadi insiden dengan pasukan Sekutu. b. Ultimatum Kedua Ultimatum kedua dikeluarkan pada tanggal 23 Maret 1946 berisi pasukan Sekutu menuntut agar para pejuang RI meninggalkan kota Bandung. Pada ulti¬matum kedua ini pemerintah RI menghiraukannya. Para pejuang Indonesia dan seluruh rakyat Bandung mau meninggalkan dan mengosongkan kota Bandung. Namun sebelum meninggalkan kota Bandung pejuang-pejuang RI melancarkan serangan umum ke arah kedudukan Sekutu dan membumihanguskan Bandung bagian Selatan dengan tujuan agar Bandung tidak diduduki oleh Sekutu. Peristiwa pembumihangusan kota Bandung inilah yang dinamakan Bandung Lautan Api dan diabadikan oleh Ismail Marzuki menjadi sebuah lagu yang berjudul “Halo-Halo Bandung”. Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka 1981 Bung Tomo tokoh pejuang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Bab 3 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945 – 1949) 69 3. Pertempuran Medan Area Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka 1981 Mr. Teuku Moh.Hasan. Berita mengenai proklamasi kemerdekaan RI baru sampai di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945 dibawa oleh Mr. Teuku Moh. Hasan sebagai gubernur Sumatra. Keterlambatan berita tersebut disebabkan sulitnya komunikasi dan sensor yang begitu ketat dari tentara Jepang. Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Kedatangan pasukan Sekutu tersebut telah diboncengi pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Sikap pemerintah RI terhadap kedatangan pasukan Sekutu pada waktu itu sangat baik. Mereka memperkenankan pasukan Sekutu itu menempati beberapa hotel di Medan dan di beberapa daerah di Medan karena menghormati tugas mereka. KAIN BATIK DOBY KAIN BATIK DAN PENJELASANNYA Pada tanggal 18 Oktober 1945 Inggris memberikan ultimatum kepada bangsa Indonesia agar menyerahkan senjatanya kepada Sekutu. Ultimatum tersebut memberikan peluang kepada tentara NICA untuk bertindak sewenang-wenang. Pada tanggal 1 Desember 1945 pasukan Sekutu memasang sejumlah papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area (Batas resmi wilayah Medan) di berbagai sudut pinggiran kota Medan. Papan nama itulah yang membuat pertempuran di Medan dan sekitarnya dikenal dengan Pertempuran Medan Area. Selanjutnya pasukan Sekutu dan NICA bersama-sama melakukan aksi “pembersihan” terhadap unsur-unsur republik yang berada di kota Medan. Para pejuang Indonesia kemudian membalas aksi-aksi tersebut sehingga kota Medan menjadi tidak aman. Untuk menghadapi kekuatan Inggris maka pada tanggal 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan suatu pertemuan para komandan pasukan yang berjuang di Medan Area. Pada pertemuan ini berhasil dibentuk satu komando yang disebut Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. 4. Peristiwa Merah Putih di Manado Sejak akhir tahun 1945 pasukan Sekutu menyerahkan Sulawesi Utara kepada pasukan NICA. Mulai saat itu pasukan NICA bertindak sewenang-wenang kepada rakyat Sulawesi Utara. Tindakan NICA tersebut mendapat reaksi keras dari para pemuda dan para bekas anggota KNIL dari Indonesia yang mendukung RI (dikenal dengan nama Tangsi Hitam). Para pejuang itu kemudian membentuk Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) yang dipimpin oleh Mayor Waisan. Pada pertengahan Januari 1946 PPI merencanakan untuk menyerang pasukan NICA. Namun rencana itu gagal setelah diketahui oleh NICA. Akibatnya para pemimpin PPI ditangkap dan dipenjarakan Belanda. Pada tanggal 14 Februari 1946 para pejuang PPI menyerbu markas NICA di Teling. Mereka berhasil membebaskan para pejuang Indonesia yang ditahan oleh Belanda dan menahan komandan NICA beserta pasukannya. Selanjutnya para pejuang Indonesia secara spontan mengambil bendera Belanda (Merah Putih Biru) yang berada di pos penjagaan dan merobek warna birunya dan mengibarkannya sebagai bendera Merah Putih. Bendera itu kemudian dikibarkan di markas Belanda di Tangsi Teling. Peristiwa itulah yang dikenal dengan nama Peristiwa Merah Putih di Manado. 5. Pertempuran di Ambarawa Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November sampai 15 Desember 1945 antara pasukan TKR melawan pasukan Sekutu. Insiden bersenjata mulai timbul di Magelang dan meluas menjadi pertempuran ketika tentara Sekutu dan NICA membebaskan secara sepihak para interniran Belanda di Magelang dan Ambarawa. Insiden ini berakhir pada tanggal 2 November 1945 setelah dilakukan perundingan antara Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethel di Magelang. Sementara itu secara diam-diam pasukan Sekutu meninggalkan Magelang dan mundur ke kota Ambarawa yaitu pada tanggal 21 November 1945. Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segera mengadakan pengejaran. Pada saat pengunduran itu tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Dalam pertempuran untuk membebaskan dua desa tersebut pada tanggal 26 November 1945 gugurlah Letnan Kolonel Isdiman Komandan Resimen Banyumas. Dengan gugurnya Letnan Kolonel Isdiman maka Kolonel Soedirman Panglima Divisi Banyumas mengambil alih pimpinan pasukan. Pada tanggal 12 Desember 1945 dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil mengepung kedudukan musuh dalam kota. Kota Ambarawa dikepung selama 4 hari 4 malam. Pada tanggal 15 Desember 1945 pasukan Sekutu meninggalkan kota Ambarawa dan mundur menuju ke Semarang. Merdeka 1981 Peta Pertempuran Ambarawa. Sumber: 30 Tahun Indonesia Bab 3 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945 – 1949) 71 6. Serangan Umum 1 Maret 1949 Setelah melancarkan agresi militernya yang kedua Belanda berhasil menguasai Yogyakarta (ibukota RI) dan melancarkan propaganda bahwa TNI sudah hancur. Untuk membuktikan bahwa TNI masih ada pemerintah RI melancarkan serangan untuk merebut kembali kota Yogyakarta. Serangan TNI ini dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949.

PEREBUTAN BATIK OLEH UNI HINDIA BELANDA

Rp ,-

Informasi dan Pemesanan :

0271-8202839
085647595948
WA / SMS / TELEGRAM

Hubungi kami dengan Chat WA









Hubungi kami dengan Chat WA




Hubungi kami dengan Chat WA




Katalog Motif Kain Batik


Katalog Motif Seragam Batik


Katalog Motif Jarik


Hubungi kami dengan Chat WA