KAIN BATIK SUDAH DIINCAR JEPANG DAN PARA PEMUDA INDONESIA | Kayamara Konveksi | 085647595948 Seragam, Kaos, Tas, Masker, APD
0271-8202839
085647595948
WA / SMS / TELEGRAM

KAIN BATIK SUDAH DIINCAR JEPANG DAN PARA PEMUDA INDONESIA

Seinendan dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943 dengan tujuan mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya DAERAH KAIN BATIK ABSTRAK DAN KAIN BATIK ANAK MUDA (IKLAN) Kondisi romusha di kereta api yang akan membawa mereka ke luar daerah. Para romusha kebanyakan diambil dari Pulau Jawa karena pulau ini banyak penduduknya sehingga memungkinkan untuk mengerahkan tenaga kerja sebanyak-banyak¬nya. Para romusha dalam bekerja ternyata mendapat perlakuan buruk. Misalnya kesehatan tidak dijamin makanan tidak cukup dan pekerjaannya terlalu berat sehingga kondisinya sangat menyedihkan. Keadaan ini oleh Jepang ditutupi dengan mengatakan bahwa romusha adalah prajurit ekonomi atau pahlawan pekerja yang sedang menunaikan tugas suci untuk angkatan perang Jepang. Kabar tentang perlakuan Jepang yang kejam terhadap para romusha akhirnya menyebar juga ke seluruh penduduk di Indonesia. 3. Mobilisasi Tenaga Muda Sejak Jepang dipukul mundur oleh Sekutu dalam pertempuran di Laut Karang pada tanggal 7 Mei 1942 Jepang mulai memanfaatkan para pemuda Indonesia dengan membentuk beberapa organisasi semimiliter berikut ini. a. Seinendan (Barisan Pemuda) Seinendan dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943 dengan tujuan mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Golongan pemuda ini berumur antara 14 – 22 tahun. b. Fujinkai (Barisan Wanita) Fujinkai adalah himpunan wanita yang dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggota Fujinkai harus berumur minimum 15 tahun dengan batas maksimum tidak ditentukan. Dalam Fujinkai pun diberikan latihan-latihan militer. c. Keibodan (Barisan Pembantu Polisi) Keibodan adalah barisan pembantu polisi. Keibodan dibentuk pada tanggal 29 April 1943 terdiri atas pemuda desa berusia 23 – 35 tahun. Di Sumatra dikenal dengan nama Bogodan dan di Kalimantan disebut Borneo Konan Hokokudan. d. Suisyintai (Barisan Pelopor) Suisyintai juga disebut barisan pelopor. Barisan pelopor merupakan organisasi pemuda pertama yang dibimbing langsung oleh kaum nasionalis Indonesia. Pemimpin Suisyintai yaitu Ir. Soekarno dibantu oleh R.P. Suroso Otto Iskandardinata dan dr. Buntaran Martoatmodjo. Barisan ini dibentuk pada tanggal 14 September 1944 dan dianggap “onderbouw” dari Jawa Hokokai (organisasi pengganti Putera). e. Seinentai (Barisan Murid-Murid Sekolah Dasar) Seinentai atau kaikyoseinen teishintai sering disebut sebagai Hisbullah Seinentai yaitu barisan semimiliter dari kaum muda Islam. f. Gakukotai (Barisan Pelajar Sekolah Lanjutan) Setiap pagi para pelajar diwajibkan mengadakan upacara dengan mengibarkan bendera Jepang Hinomaru menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo mengucapkan janji dalam bahasa Jepang hormat seikerei kepada Kaisar Jepang di Tokyo yang dilakukan dengan membungkukkan badan dalam-dalam ke arah Timur Laut arah letak kota Tokyo dan berolah raga taisho (senam). Selain organisasi semi militer Jepang juga membentuk organisasi kemiliteran untuk bala bantuan tentara Jepang dalam menghadapi Sekutu. a. Heiho Heiho dibentuk pada bulan Oktober 1943. Heiho merupakan pasukan militer Jepang dari penduduk pribumi dengan tujuan menambah jumlah kekuatan tentara Jepang untuk mempertahankan negeri-negeri yang telah didudukinya. Mereka ditempatkan di dalam organisasi militer. b. Peta (Pembela Tanah Air) Peta dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 atas usul dr. Gatot Mangkuprojo. Para calon perwira Peta dilatih di kota Bogor. Peta dibentuk di Jawa sedangkan di Sumatra badan semacam ini disebut giyugun atau tentara sukarela. Peta bersifat Indonesia dan perwira-perwiranya dari Indonesia. Setelah Indonesia merdeka Bab 2 Perang Dunia II dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia (1939 – 1945) 41 mereka yang berasal dari Peta banyak yang menjadi pemimpin Indonesia seperti Jenderal Sudirman Jenderal Gatot Subroto Supriyadi dan Jenderal Ahmad Yani. 4. Akibat Pendudukan Jepang di Indonesia Politik imperialisme Jepang di Indonesia terlihat dan berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam dan mobilisasi tenaga kerja untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya. KAIN BATIK ASLI KAIN BATIK ATBM MERUPAKAN ORIENTASI PENJAJAHAN JEPANG (IKLAN) Berdasarkan orientasi itu Jepang secara ekstensif melakukan eksploitasi ekonomi penetrasi politik dan tekanan kultural pada masyarakat Indonesia hingga tingkat pedesaan. Pengawasan sosial diberlakukan dengan pembentukan organisasi¬organisasi sosial serta tekanan-tekanan mental dan agitasi secara terus-menerus dalam berbagai bidang kehidupan. a. Bidang Politik Pemerintahan sipil tetap dipertahankan untuk mencegah kekacauan tetapi pimpinan dipegang oleh tentara Jepang baik di pusat maupun di daerah. Struktur atau bentuk pemerintah daerah berdasarkan undang-undang tersebut terdiri atas Syu atau karesidenan Si atau kota Ken atau kabupaten Gun atau kawedanan Son atau kecamatan dan Ku atau desa. Pembagian struktur pemerintahan daerah tersebut memberi dampak yang positif bagi bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh bangsa Indonesia diberi kedudukan yang penting dalam pemerintahan. Hal tersebut memberi/menambah pengalaman berpolitik para tokoh bangsa. Selain itu para tokoh bangsa dapat semakin matang dalam perjuangan ke arah kemerdekaan. Campur tangan pemerintah Jepang terhadap pangreh praja merupakan bentuk-bentuk penetrasi politik terhadap lembaga-lembaga politik tradisional di pedesaan. Kepala desa yang tadinya dipilih oleh rakyat secara demokratis oleh Jepang dilakukan melalui seleksi dan tes yang dibuat oleh pemerintah Jepang. Semua dimaksudkan untuk memilih kepala desa yang mengerti administrasi pemerintahan dan sekaligus untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disukai pemerintah Jepang. b. Bidang Sosial Ekonomi Sumber: Sejarah Nasional Indonesia VI 1993 Gambar 2.15 Masyarakat di pedesaan mengumpulkan padi untuk tentara Jepang. Diberlakukannya politik penyerahan padi secara paksa didasarkan pada kebutuhan bahan pangan yang meningkat bagi tentara Jepang di medan pertempur¬an. Akibat dari eksploitasi kehidupan masyarakat di pedesaan sangat mem¬prihatinkan kemiskinan endemis semakin meluas kondisi kesehatan sangat merosot dan angka kematian sangat tinggi. Keadaan petani dan masyarakat pedesaan di Jawa benar-benar berada pada tingkat yang sangat rendah. c. Bidang Mentalitas Masyarakat Masyarakat pedesaan di Jawa banyak yang diambil dan dijadikan tenaga kerja paksa (romusha) untuk menangani proyek-proyek pembangunan seperti pembangun benteng-benteng pertahanan lubang-lubang pertahanan jembatan maupun tempat-tempat penyimpanan bahan makanan. Selain itu para wanita dipaksa untuk menjadi ianfu (wanita tunasusila) yang melayani kebutuhan para prajurit Jepang. Perlakuan yang tidak manusiawi tentara Jepang terhadap romusha dan ianfu serta tidak adanya jaminan sosial menyebabkan beribu¬ribu romusha meninggal dengan mengenaskan. Keadaan sangat buruk itu menghantui masyarakat desa dan berkembang menjadi ketakutan serta kegelisahan komunal. Pengaruh Kebijakan Pemerintah Jepang terhadap Pergerakan Kebangsaan Indonesia Setelah berhasil menguasai Indonesia Jepang berusaha untuk mengambil hati rakyat Indonesia. Kebijakan yang dilakukan untuk menarik hati rakyat yaitu dengan membebaskan pemimpin-pemimpin Indonesia yang diasingkan oleh Belanda. Selain itu Jepang juga mengijinkan bangsa Indonesia untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menggunakan Bahasa Indonesia. Selanjutnya Jepang membentuk gerakan 3A (Jepang Cahaya Asia Pelindung Asia dan Pemimpin Asia) yang bertujuan untuk menghimpun potensi bangsa guna kemakmuran bersama. Gerakan 3A diketuai oleh Mr. Syamsudin. Jepang menyadari bahwa jika ingin memobilisasi rakyat maka mereka harus memanfaatkan tokoh-tokoh terkemuka gerakan nasionalis. JEPANG MENCOBA MEMPENGARUHI KAIN BATIK ADALAH KAIN TRADISIONAL DARI KAIN BATIK ANAK (IKLAN) Jepang kemudian berusaha memengaruhi rakyat Indonesia melalui tokoh-tokoh nasional seperti Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Dalam kondisi pendudukan Jepang seperti itu tokoh-tokoh nasionalis mulai mengambil sikap dalam kerangka perjuangannya. Moh. Hatta dan Syahrir memutuskan memakai strategi yang bersifat saling melengkapi dan saling membantu dalam situasi baru kekuasaan Jepang tersebut. Sikap yang diambil Moh. Hatta adalah menjalin kerja sama dengan Jepang dan berusaha mengurangi kekerasan pemerintahan demi kepentingan bangsa Indonesia (bersifat kooperatif). Sementara itu Syahrir membentuk suatu gerakan “bawah tanah” yang bersifat ilegal karena Syahrir tidak menghendaki adanya kerja sama dengan Jepang (bersikap nonkooperatif). Untuk mengambil hati rakyat Indonesia dan para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia maka pemerintah Jepang mengambil kebijakan-kebijakan dengan membentuk organisasi-organisasi berikut ini. Bab 2 Perang Dunia II dan Pengaruhnya Terhadap Indonesia (1939 – 1945) 43 1. Pusat Tenaga Rakyat (Putera) Sumber: Album Pahlawan Bangsa 2004 16 Tokoh Empat Serangkai yaitu Ir. Soekarno Drs. Moh. Hatta Ki Hajar Dewantara dan K.H. M. Mansyur. Setelah gerakan 3A dianggap tidak membawa hasil bagi pemerintah Jepang maka organisasi tersebut dibubarkan. Sebagai gantinya pada tanggal 16 April 1943 Jepang membentuk organisasi baru yang bernama Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Para pemimpin Putera terdiri atas Ir. Soekarno Drs. M. Hatta Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansyur. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Empat Serangkai. Tujuan didirikannya Putera oleh Jepang adalah untuk mempersatukan rakyat Jawa dalam menghadapi serangan Sekutu. Namun oleh para pemimpin Indonesia Putera justru digunakan untuk memelihara perjuangan bagi terwujudnya Indonesia merdeka. Para pemimpin Putera sering melakukan rapat-rapat raksasa untuk senantiasa melatih semangat rakyat Indonesia. Kehadiran Putera mendapat sambutan dari berbagai organisasi massa yang ada pada saat itu. Berbagai organisasi menyatakan bergabung. Akhirnya bermunculan organisasi-organisasi seperti Gemblengan Pemuda Asia Raya (Gempar). Tujuan Gempar adalah memelopori perjuangan bangsa dengan melakukan kerja sama dengan Putera. Hal ini dilakukan agar dalam aktivitas perjuangannya tidak mendapat rintangan dari Jepang. Tujuan yang sesungguhnya dari organisasi Gempar adalah menggembleng para pemuda agar memiliki semangat nasionalisme (Gembleng Pemuda Rakyat). Karena merasa bahwa organisasi-organisasi yang telah dibentuknya dipakai untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan maka pada tahun 1944 Jepang membubarkan organisasi-organisasi tersebut. Jepang kemudian membentuk organisasi-organisasi yang benar-benar bermanfaat bagi Jepang seperti Jawa Hokokai Seinendan Keibodan PETA Fujinkai dan Heiho. Organisasi-organisasi ini dimanfaatkan Jepang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan militernya guna menghadapi Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. 2. Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa) Setelah Putera dibubarkan pada bulan Maret 1944 pemerintah Jepang membentuk Jawa Hokokai yang berkewajiban mengerahkan dana dan daya untuk kepentingan Jepang. Pimpinan Jawa Hokokai berada langsung di bawah pengawasan pejabat Jepang. Namun seperti halnya Putera Jawa Hokokai juga dimanfaatkan oleh para pemimpin nasionalis untuk membangkitkan persatuan dan kesatuan rakyat. 3. Chuo Sangi In (Badan Pertimbangan) Chuo Sangi In didirikan pada tanggal 5 September 1943 atas saran dari Perdana Menteri Jepang Jenderal Hideki Tojo. Keanggotaannya terdiri atas 23 orang Jepang dan 20 orang Indonesia. Badan ini diketuai oleh Ir. Soekarno dan kedua wakilnya yaitu R.M.A.A. Kusumo Utoyo dan dr. Buntaran Martoatmodjo. Mereka bertugas memberi masukan dan pertimbangan kepada pemerintah pendudukan Jepang dalam mengambil suatu keputusan maupun

KAIN BATIK SUDAH DIINCAR JEPANG DAN PARA PEMUDA INDONESIA

Rp ,-

Informasi dan Pemesanan :

0271-8202839
085647595948
WA / SMS / TELEGRAM

Hubungi kami dengan Chat WA









Hubungi kami dengan Chat WA




Hubungi kami dengan Chat WA




Katalog Motif Kain Batik


Katalog Motif Seragam Batik


Katalog Motif Jarik


Hubungi kami dengan Chat WA